“Aku ga suka ribet!
Kalau hitam ya hitam, kalau putih ya putih”
Percakapan macam ini sering banget kita dengar dalam
kehidupan sehari-hari. Banyak orang yang dengan dalih menjadi orang yang simple,
memaksakan untuk memilih antara hitam dan putih, mendefinisikan hidupnya antara
jatuh dan bangun, cinta dan benci, dan sebagainya. Padahal, hidup kadang tak
sesederhana itu.
Betapa sederhana nya hidup jika cuma didefiniskan dengan hitam atau putih. Membosankan dan kadang berbahaya. Kok berbahaya?, sebagai manusia yang lahir dengan perasaan, manusia akan seringkali terjebak dalam ke abu-abu an. Mungkin, jika manusia hanya dikaruniai pikiran dan hanya menjalani hidup dengan logika, konsep simple hitam putih ini
akan dapat diterapkan. Tapi, perasaan memiliki pengaruh besar, tak dapat dielakan. Banyaknya kasus
galau juga memuktikan bahwa selalu ada abu diantara hitam dan putih.
Walaupun sering di identikan dengan
kebimbangan dan kegalauan,ke abu abu an ini sebenarnya banyak menguntungkan dan
membawa kisah-kisah yang layak diceritakan. Contoh pertama adalah abu-abu di
masa “Putih Abu”, masa paling berkesan bagi sebagian besar orang. Mungkin saja
penempatan warna abu di seragam anak SMA ini memang memiliki pesan terembunyi, bahwa betul pada masa ini lah, memuncak suatu kegalauan di benak orang-orang. Abu-abu
ketika kamu memilih IPA atau IPS, abu-abu ketika kamu harus memilih sinta atau
dewi, abu abu-ketika harus mencentang dua jurusan di form snmptn, dan lain
lain.
Kadang abu abu juga, memberi harapan (walaupun berakhir semu) pada para
pejuang cinta, yang tak bisa bersatu dengan pasangan idamannya oleh karena berbagai hal (etnis, agama, orang tua ).
Ketika kamu tidak bisa bersatu, tapi tidak cukup berani untuk memilih pergi; Abu abu banget.
Ketika kalian ngomong jalanin aja dulu; Abu-Abu banget.
Tanpa abu abu, betapa boringnya
hidup kita. Bahkan, pernah kepikiran nggak kalau abu-abu bisa nyelametin semangat
idup dan motivasi kamu. Ketika kamu patah hati, atau gagal, kamu bisa memilih
untuk tenggelam dalam hitam selamanya atau, mencoba melihat ke abu abu an yang selalu ada disekitar
dan diam sejenak untuk dapat bangkit kembali. Seperti ketika awan gelap, kamu
bisa saja tenggelam dalam mendung dan menanti turunnya hujan
atau sebaliknya mencari ke abu abu an di pinggir awan hitam yang membentuk garis tipis tempat
mengintipnya sinar matahari harapan. Bayangin aja, ketika misalnya kamu di tolak orang yang kamu suka,
dan harus mendefinisikan hidup kamu dalam hitam atau putih, ya pasti hitam, dan
bakal terus-terusan hitam. Nah dalam posisi seperti inilah, kamu harus bisa memanfaatkan si abu. Walaupun
abu-abu BUKAN berarti move on, tapi abu-abu bisa menjadi solusi pendek dan memberi sedikit harapan buat
kamu. Terimakasih Abu-abu.
Wah bener juga ya. Nggak asik kalo di dunia ini cuma ada item sama putih. Hmm. *manggut-manggut*
BalasHapuswah ada deva, Ia bener, hidup itu ga sesederhana hitam putih
Hapusmakasih komennya ya
Hidup abu-abu :)
BalasHapus