Batas

         Batas, ia tentang batas. Batas itu ada dalam diri kita. Kita itu mahluk yang terbatas. Memang dibilang yang paling sempurna. Tapi tetap terbatas.
Kadang, jiwa-jiwa rebel dalam diri kita menolak apa yang disebut batas. Kita berimajinasi dan berfantasi. Bahkan, merealisasikan fantasi walau banyak halangan sana-sini.  Tapi ini dunia nyata. Kalau nggak terima silahkan lari dari kenyataan ( you know what I mean).
        Dunia nyata dimana semua ada batasnya. Batasan nggak selalu dalam bentuk fisik, mungkin adat, budaya, ideology atau hal-hal lain. Tapi pernah nggak mikir, sebenarnya sang batas lah yang melahirkan, menguji, apa yang disebut kreatifitas. Memang semua tergantung kita. Kalau kita emang gak niat, ya menyerah pada batas. Dengan adanya banyak batas, secara alami, kreatifitas itu tumbuh. Kita mencari celah, mencari cara. Anggap aja batas itu kayak rintangan di game, kalau jalan kita lurus-lurus aja, nggak akan seru. Hambar.
        Tentang batas yang mendorong. Pasti pernah denger, tentang si miskin yang juara satu dikelas bermodalkan buku minjam dan si kaya yang nggak dapet juara padahal modalnya 1 rak buku edisi terbaru. Rak bukunya saingan sama perpustakaan nasional. Penulis nggak ngerti sama conthnya sih. Nggak ada ide. Maaf. Inti tulisan ini sih, jangan menghamba pada batas, jangan jatuh oleh batas. Pakai batas sebagai pendorong kreatifitas. Semua orang punya batas. Batas itu kita. Gimana sikap dan pandangan kita dalam neghadapi batas itulah yang penting.

Tabanan Bali,28-1-2014


2 komentar

  1. Hebat. Ajik dapat tambahan pengetahuan, yang selama ini tidak pernah terbayangkan: apa yang dimaksud dengan batas. Tulisan yang membutuhkan renungan untuk memahami dan meresapinya, karena maknanya sangat dalam.
    "Batas" melahirkan kreatifitas.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Suksma jik atas kunjungannya dan selalu memberi komen yang amat sangat berbobot terhadap tulisan-tulisan di blog ini, hehe

      Hapus

Beranda